Indonesia Virtual Tour
Jelajah
search

TROWULAN
Kawasan Cagar Budaya Trowulan selama ini diduga kuat sebagai bekas lokasi ibu kota Kerajaan Majapahit yang termahsyur antara abad ke-13 hingga 15 Masehi. Kawasan seluas 92,6 km2 atau lebih luas daripada kota Yogyakarta tersebut berada di Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Pentingnya Trowulan dalam sejarah bangsa membuatnya ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya tingkat nasional melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 260/M/2013. Beragam jenis peninggalan masa lampau di Trowulan menjadi bukti kemajuan budaya masyarakat Majapahit di berbagai bidang, seperti politik, kesenian, budaya maritim, serta toleransi kehidupan sosial pada masanya.


Penelitian arkeologi di Trowulan pertama kali dilakukan oleh Wardenaar pada tahun 1815 atas perintah Raffles, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu. Wardenaar ditugaskan menyelidiki berita tentang penemuan berbagai benda kuno di daerah Mojokerto. Hasil penelitian dan pengamatan tersebut kemudian dipublikasikan oleh Raffles dalam bukunya “History of Java” pada tahun 1817. Hasil kerjanya tersebut berhasil mengundang ketertarikan para ahli arkeologi lainnya untuk terjun langsung meneliti Trowulan, antara lain W.R. van Hovell, J.F.G. Brumund, Jonathan Rigg, J.Hageman, R.D.M Verbeek, J.L.A Brandes, H. Kern, N.J. Krom hingga Bupati Mojokerto yaitu Raden Adipati Kromodjojo Adinegoro. 


Upaya pelestarian atas hasil temuan arkeologi kemudian digagas oleh Maclaine Pont dan Raden Adipati Kromodjojo Adinegoro dengan membentuk lembaga bernama Oudheidkundige Vereeneging Madjapahit sekitar tahun 1920an. Lembaga tersebut bertujuan untuk melestarikan dan menyelamatkan hasil-hasil temuan arkeologi yang memiliki keterkaitan dengan Majapahit. Pada masa pasca kemerdekaan, upaya penelitian, pelindungan, pelestarian, dan pemanfaatan Kawasan Trowulan kemudian ditangani oleh pemerintah pusat melalui dua instansinya yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 


Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di bawah Balitbang dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan penelitian arkeologi di Kawasan Trowulan sejak tahun 1975 dan masih berlanjut hingga saat ini. Upaya penelitian telah berhasil mengungkap berbagai bukti penting dalam sejarah Majapahit, seperti bangunan keagamaan serta sisa-sisa pemukiman berikut berbagai peralatan sehari-hari dari masa lampau atau biasa disebut dengan artefak. Benda-benda peninggalan masa lampau seperti keramik asing (Cina dan Thailand), gerabah, mata uang, serta berbagai peralatan logam untuk keperluan upacara atau perhiasan cukup sering dijumpai selama penelitian.


Penelusuran sejarah nama Trowulan pertama kali dilakukan oleh Maclaine Pont (1924) setelah membaca Serat Kanda yang kemudian membuat ia berasumsi bahwa Trowulan berasal dari kata “Citra Wulan” atau “Setra Wulan”. Nama Trowulan disebutkan dalam Serat Dermagandul pada pupuh XX yang mengisahkan permintaan terakhir Raja Brawijaya apabila wafat dimakamkan di “Sastrawulan”. Keterangan lain yang memperkuat dugaan bahwa Trowulan sebagai Ibukota Majapahit adalah kitab Pararaton yang pada salah satu pupuhnya mengisahkan tentang wafatnya Raja Jayanegara yang kemudian didharmakan di “antawulan”. Keterangan lebih lanjut mengenai wafatnya Jayanegara juga dimuat dalam kitab Nagarakertagama yang menjelaskan bahwa sang raja didharmakan di dalam kompleks keraton tepatnya di Sila Petak dan Bubat. Lokasi lain yang disebutkan dalam kitab Nagarakertagama adalah Antarasasi dan Ssri Ranggapura. Kedua kitab tersebut memberikan petunjuk bagi arkeolog bahwa Raja Jayanegara didharmakan di Antawulan atau Antarasasi yang saat ini dikenal dengan nama Trowulan.
Kawasan Trowulan secara geografis terletak pada dataran dibawah lereng gunung sehingga lokasinya cukup subur untuk pertanian. Daerah dimana ibu kota Majapahit dilalui Sungai Brantas yang menjadi jalur lintas perdagangan dengan dunia luar. Bukti kemajuan budaya maritim di Majapahit terekam dalam Prasasti Canggu (1385 M) yang memperkuat dugaan para arkeolog bahwa daerah Canggu di utara Trowulan merupakan pelabuhan yang menjadi bagian dari jalur perdagangan dengan berbagai komunitas dari luar Nusantara. Rekam jejak eksistensi Pelabuhan Canggu juga terekam dalam kitab Ying Yai Shen Lan yang ditulis oleh Ma Huan pada 1415, seorang penjelajah dari Cina. Kitab tersebut mengungkapkan bahwa Jawa memiliki empat kota tanpa tembok keliling, yaitu Tuban, Gresik, Surabaya, dan Majapahit. Perjalanan menuju Majapahit dapat dilakukan dengan cara menyusuri sungai dari Surabaya menggunakan perahu kecil dan turun di Canggu. Perjalanan menuju pusat kota dilakukan dengan berjalan ke selatan selama satu setengah hari. 


Kemajuan budaya maritim di Majapahit berpengaruh pada berbagai sendi kehidupan khususnya bidang perekonomian. Padatnya temuan artefak berupa keramik Cina, Thailand, dan Vietnam, berbagai artefak logam, dan koin mata uang menjadi bukti majunya perekonomian masyarakat pada masanya. Kerajaan Majapahit mengalami perkembangkan teknologi yang cukup pesat. Hal tersebut tampak dari pengelolaan tanah menjadi tembikar dan bata berkualitas tinggi sebagai bahan material bangunan candi. Penggunaan bata menjadi salah satu karakter bangunan candi peninggalan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. 


Masyarakat di Kerajaan Majapahit adalah masyarakat yang menghargai keberagaman dan toleransi.  Temuan artefak berupa figurin terakota menjadi bukti adanya orang asing dari Asia Selatan, Asia Barat, Asia Timur, dan Asia Tenggara yang tinggal di Trowulan. Kedatangan komunitas asing di Majapahit juga membawa pengaruh masuknya Islam di Nusantara. Buktinya keberadaan komunitas Islam di Majapahit adalah Makam Troloyo yang nisannya ditulis dengan tulisan Arab dan didapati surya Majapahit yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit. Kedua bukti tersebut memberi gambaran kehidupan masyarakat di Majapahit yang penuh dengan keberagaman dan toleransi atas perbedaan etnis, ras, serta agama.
Tinggalan arkeologi di Kawasan Trowulan merupakan bagian penting dari jejak sejarah Kerajaan Majapahit yang dapat menjadi sumber inspirasi kehidupan masyarakat yang beragam. Salah satu karya yang cukup terkenal dari masa Majapahit adalah Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 M. Pada salah satu baitnya memuat semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar dalam kehidupan yang beragam dan bertoleransi antar anggota masyarakatnya.