Indonesia Virtual Tour
Explore
search

Candi Brahu adalah candi dengan latar belakang agama Buddha peninggalan Majapahit. Ada dua versi asal mula nama Candi Brahu. Versi pertama yaitu nama “Brahu” berasal dari kata ”awu” yang berarti abu. Hal ini sering dikaitkan dengan cerita rakyat mengenai fungsi Candi Brahu sebagai tempat pembakaran jenazah Raja Brawijaya I-IV. Pendapat tersebut dianggap lemah karena tidak pernah ditemukan sisa abu ataupun bekas pembakaran pada area badan candi. Versi kedua, menjelaskan bahwa nama Candi Brahu berasal dari kata ”Wanaru” atau ”Warahu”. Kata tersebut tertera di dalam Prasasti Alasantan yang berangka tahun 939 Masehi sebagai nama sebuah bangunan suci. Lokasi penemuan Prasasti Alasantan pun berada tidak jauh dari Candi Brahu sehingga mendukung versi kedua. Prasasti Alasantan juga menjadi bukti bahwa area sekitar Candi Brahu telah dihuni oleh masyarakat masa lampau sejak abad ke-10 Masehi dan terus berlanjut hingga era Majapahit pada abad ke-13 hingga 15 Masehi.

Struktur bangunan Candi Brahu dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian kaki candi, badan candi, dan atap candi. Denah bengunan berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang sisinya 18,5 meter dan lebar 20 meter. Candi Brahu menghadap ke arah barat karena pada sisi baratnya terdapat tangga masuk dan pintu menuju bilik candi. Bentuk arsitektur Candi Brahu merupakan hasil pemugaran sehingga komposisi ruang bagian dalam bilik candi tidak dapat teridentifikasi.