Indonesia Virtual Tour
Explore
search

Nama Candi Gentong diberikan oleh penduduk sekitar. Candi Gentong pada awalnya merupakan sebuah gundukan besar berbentuk membulat, menyerupai separuh bola. Keberadaan Situs Candi Gentong pertama kali dilaporan oleh Knebel yang dibuat dalam laporan Rapporten Oudheidkundige Commisie dan diterbitkan pada tahun 1907.

Laporan belanda tersebut kemudian menjadi dasar bagi Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala untuk melakukan ekskavasi penyelamatan dan pelestarian mulai tahun 1995 hingga 1998. Kegiatan tersebut berhasil mengungkap denah Candi Gentong I yang tersusun atas tiga buah bangunan berbentuk persegi. Bangunan pertama berukuran 9,25 x 9,25 meter. Bangunan kedua berukuran 11,40 m x 11,40 meter. Bangunan ketiga berukuran 23, 5 x 23,5 meter.

Umur dari Candi Gentong terungkap berkat temuan stupika yang terbuat dari tanah liat. Pada bagian bawah stupika tampak inskripsi pendek beraksara Jawa Kuno yang berisikan mantra-mantra Buddha. Menurut arkeolog, Dr. Titi Surti Nastiti tipe aksara yang tertoreh pada stupika tersebut berasal dari masa Mataram Kuno (abad ke-10 hingga ke-12 Masehi). Pertanggalan lainnya diperoleh dari analisis radiokarbon (C14) pada fragmen tulang yang menunjukkan Candi Gentong dibangun pada 1370 Masehi atau pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Kedua pertanggalan tersebut mengindikasikan Candi Gentong telah digunakan secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang.

Artefak lain yang ditemukan selama proses pemugaran dan penelitian di Candi Gentong I adalah adalah arca Dhyani Buddha dan arca Boddhisatva. Kedua arca tersebut menegaskan latar belakang keagamaan Candi Gentong sebagai Candi Buddha.