Indonesia Virtual Tour
Explore
search

Pemberian nama Candi Tikus berasal dari proses penemuan dan peristiwa serangan hama yang terjadi pada tahun 1914 di Dukuh Dinuk, Mojokerto. Kerusakan sawah yang disebabkan hama tikus menyebabkan Bupati Mojokerto saat itu, Raden Adipati Ario Kromojoyo Adinegoro, memerintahkan warga untuk menggali bukit kecil yang diduga merupakan sarang tikus. Penggalian tersebut justru menampakkan sebuah bangunan dengan konstruksi bata. Temuan bekas bangunan tersebut lantas ditindaklanjuti oleh Oudheidkundige Dients (OD) dengan melakukan penelitian. Hasil penelitian OD menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan petirtaan yang kini dikenal dengan nama Candi Tikus.

Candi Tikus memiliki 17 pancuran air, dua kolam pada bagian depan, serta beberapa menara yang tampak pada bagian tubuh candi. Konstruksi bangunan Candi Tikus tampak dibuat berundak dan dilengkapi dengan beberapa miniatur serta sebuah menara pada bagian puncaknya.

Bentuk arsitektur Candi Tikus merupakan perlambangan dari Gunung Mahameru atau gunung yang dianggap suci dalam kebudayaan India. Gunung Mahameru adalah gunung keramat tempat tersimpannya air amerta yang berarti ”air kehidupan”. Kisah yang melatarinya yaitu siapa pun yang dapat meminum air amerta akan luput dari kematian.