Indonesia Virtual Tour
Explore
search

Gapura Wringin Lawang pernah diberitakan dalam buku ”The History of Java” karya T.S. Raffles yang diterbitkan pada 1817. Peninjauan kembali Gapura Wringin Lawang kembali dilakukan oleh Knebel pada tahun 1907 yang kemudian melaporkan kembali tentang adanya sebuah gapura besar di daerah Jati Paser. Nama “Gapuran Wringin Lawang” diberikan oleh penduduk sekitar karena dahulunya terdapat dua pohon beringin besar di dekat gapura. Pohon beringin dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah wringin” dan bentuk gapura seolah menyerupai pintu masuk sehingga dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah ”lawang”.

Gapura Wringin Lawang diperkirakan menjadi salah satu gerbang menuju area permukiman di Trowulan. Gapura ini tergolong ‘gapura candi bentar’ yang mencerminkan gerbang menuju tempat yang sifatnya profan atau bukan bangunan suci (sakral). Gapura candi bentar biasanya memiliki bentuk dan ukuran yang simetris di kedua sisinya serta tanpa dilengkapi atap penghubung di bagian atasnya. Ketika ditemukan, sisi utara dari Gapura Wringin Lawang telah runtuh sebagian sedangkan sisi selatannya masih utuh dengan tinggi mencapai 15,5 meter. Bangunan sisi utara pun dipugar persis seperti bentuk dan ukuran gapura sisi selatan karena keduanya dianggap simetris.