Indonesia Virtual Tour
Explore
search

Selamat datang di Gua Harimau! Sebuah rongga alami berukuran besar pada dinding bukit kapur di Desa Padang Bindu yang akan menguak misteri peradaban dari ribuan tahun silam. Dahulu kala, ketika aksara belum dikenal (Masa Pra-Sejarah), gua ini menjadi rumah bagi kelompok pemburu dan peramu makanan. Tidak hanya bermukim, mereka juga memakamkan jasad kerabatnya di Gua Harimau. Tradisi menguburkan jasad manusia terus-menerus berlangsung di Gua Harimau, melintasi periode-periode kehidupan yang berbeda di zaman Pra-Sejarah, hingga akhirnya diungkap oleh tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Ribuan peralatan masa lampau yang terbuat dari batu, tulang, dan cangkang kerang menjadi bukti betapa intensifnya gua ini dihuni manusia pada masa silam. Lapis demi lapis tanah di Gua Harimau telah digali secara perlahan oleh para arkeolog sejak tahun 2009 sampai 2016. Hasilnya, diketahui gua ini pernah menjadi ruang hunian masyarakat Pra-Sejarah sejak 20.000 tahun yang lalu hingga setidaknya 2.000 tahun lalu.

Tersembunyi di antara semak belukar dan lebatnya pepohonan hutan, gua ini ditemukan tim peneliti Puslit Arkenas pada tahun 2008 berbekal informasi seorang penduduk Desa Padang Bindu, Bpk. Ferdinata. Begitu luasnya ukuran gua dengan kondisi lantainya yang kering menjadikan gua ini nyaman untuk dihuni. Terlebih di depannya mengalir sebatang sungai bernama ‘Aek Amanbasa’ yang mungkin menjadi sumber air utama pada masa lalu. Artefak-artefak batu dari periode kebudayaan prasejarah yang lebih sederhana pun turut dijumpai di dasar sungai kecil tersebut. Ada sederet keistimewaan dari Gua Harimau yang membuatnya lain daripada yang lain.

Pertama yaitu banyaknya kubur-kubur manusia dari masa prasejarah yang ditemukan di situs ini. Ada lebih dari 80 orang yang dikubur dengan berbagai posisi dan perlakuan berbeda di Gua Harimau. Variasi perlakuan pada kerangka serta posisinya menjadi petunjuk awal adanya periode hunian berbeda di situs gua ini. Hal ini pun diperkuat oleh ciri fisik dari tulang-belulang serta gigi manusia yang dikubur tersebut. Setidaknya ada dua populasi manusia berbeda yang dikubur di gua ini, yaitu populasi Australomelanesid dan Monggolid. Keduanya adalah leluhur dari mayoritas penduduk Indonesia saat ini yang sangat majemuk, mulai dari Sabang hingga Merauke.

Hal istimewa kedua yaitu, adanya seni cadas (rock art) dari masa lampau di Gua Harimau, berupa gambar-gambar berwarna merah pada dinding gua yang saat itu belum pernah dijumpai sebelumnya di Sumatra. Ketika ditemukan pada tahun 2009, lukisan prasejarah tersebut mengejutkan para ahli, karena Sumatra ternyata juga memiliki budaya seni cadas dari masa Prasejarah. Gambar cadas yang di Gua Harimau tersusun atas barisan garis berliku dan persegi tersebut (geometris) dibuat dari pewarna alami yang kemungkinan dibuat dari mineral oksida besi (oker).

Keistimewaannya yang terakhir yaitu Gua Harimau menyajikan gambaran lengkap mengenai proses perubahan budaya dari masa ke masa. Lapisan budaya Preneolitik yang berada di paling bawah mengandung kuburan manusia ras Australomelanesid yang tubuhnya diposisikan terlipat, meringkuk layaknya bayi di dalam kandungan. Perkakas mereka terbuat dari batu, berupa alat serpih dan batu-batu kerakal sungai yang digunakan sebagai penumbuk dan penggerus. Di atasnya terdapat kubur manusia dari periode neolitik dan paleometalik dengan posisi tubuh telentang serta rangka lainnya yang dikuburkan tanpa anggota tubuh yang lengkap (kubur tidak langsung). Pada lapisan bagian atas, wadah-wadah tembikar mulai ditemukan. Ini lah penanda kedatangan populasi baru, ras Monggolid yang menggantikan populasi sebelumnya sekitar 3.000 hingga 2.000 tahun yang lalu.

Kubur-kubur manusia di Gua Harimau menjadi bukti bagaimana masyarakat prasejarah di masa lalu sangat memuliakan leluhur dan kerabatnya. Buktinya, ditemukan berbagai jenis ‘bekal kubur’ seperti kapak dan gelang perunggu serta wadah-wadah tembikar. Gua Harimau mengajarkan, kebinekaan bangsa Indonesia telah mengakar kuat sejak dahulu kala. Situs ini merekam mosaik budaya dan populasi manusia di masa lalu melalui peninggalan arkeologi yang terkandung di dalam lapisan tanahnya. Gambar cadas prasejarah dan perhiasan yang ditemukan menjadi bukti leluhur bangsa ini juga mengenal aspek estetika dalam hidupnya. Meski berada di pedalaman, masyarakat penghuni Gua Harimau telah aktif berinteraksi dengan dunia luar. Benda-benda perunggu yang merupakan pengaruh kebudayaan Dongson pada awal tahun Masehi menjadi bukti adanya interaksi dengan dunia luar, meskipun mereka bermukim jauh di pedalaman Sumatra Selatan.