Indonesia Virtual Tour
Explore
search

Leang Jing secara administratif masuk dalam wilayah Dusun Lopi-Lopi, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Leang Jing berada pada ketinggian 48 meter di atas permukaan laut. Luas lahan situs yang telah dipagar mencapai 15.053  meter persegi (apabila digabungkan dengan Leang Barugayya) yaitu seluas dua kali lapangan sepak bola. Dari Leang Jing terdapat lorong yang menembus sampai di Leang Barugayya sepanjang kurang lebih 200 meter. Jing dalam bahasa lokal (Bugis/Makassar) berarti “Jin” (sejenis mahluk gaib). Menurut masyarakat sekitar, gua ini diberi nama “Jing” karena dianggap ada mahluk gaib yang menghuninya, sehingga gua ini dianggap keramat karena ada “penunggu”.

Pintu masuk gua berada pada dinding tebing yang vertikal dengan tinggi sekitar 8 m di atas permukaan tanah saat ini, sehingga untuk mencapainya harus memanjat tegak lurus. Leang Jing termasuk dalam kategori gua, karena memiliki ruangan dan intensitas cahaya dari temaram hingga gelap abadi. Suhu udara rongga berkisar antara 24-27 derajat celcius dengan kelembaban berkisar antara 70-80% dan kelembaban dinding rongga berkisar antara 18-26 % dengan lantai gua yang relatif datar memanjang dan bertingkat.

Sebagai sebuah rongga yang terletak di tebing bukit, maka Leang Jing ini tidak menyediakan adanya lahan pelataran, sehingga distribusi lahan dalam lingkungannya hanya yang berada di bawah kaki bukit. Lahan yang berada di bawah Leang Jing terdiri atas lahan kering selebar 20 meter yang ditumbuhi pohon bambu, pohon asam, dan semak belukar. Di ujung lahan kering ini terdapat sungai kecil (intermittent channel) selebar 2 meter melintasi Leang Jing yang memanjang dari Leang Balang sampai di muka Leang Barugayya. Sungai kecil ini berfungsi mengendalikan volume air yang keluar dari Leang Balang ketika musim penghujan tiba.

Penelitian arkeologis telah dilaksanakan di Leang Jing dalam tahap observasi baik yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (1991 hingga 1997) maupun oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (1991). Akumulasi tinggalan arkeologi yang teramati di situs Leang Jing ini berupa gambar cadas yang digambarkan pada dinding gua yang cukup gelap, temuan tulang manusia, fragmen keramik asing, dan koin kuno. Leang Jing memiliki sekitar 138 imaji, didominasi oleh gambar tangan negatif sebanyak 107 imaji, 11 figur hewan, 5 gambar geometrik, 1 figur manusia, 1 gambar kaki, dan 13 objek tidak teridentifikasi. Gambar cadas diidentifikasi sebagai gambar babi dari jenis Sus Scrofa Linneaus dengan bagian kepala menghadap ke bawah, anoa yang termasuk Bovidae-Ungulata, burung belibis (Anas Aucklandica Chlorotis Gray), dan burung podang atau Gallicrex Cinera (Gmelin), ikan (baronang?), gurita, manusia dan gambar tangan yang kesemuanya menggunakan warna merah. Gambar burung dan gambar manusia dikerjakan dengan cara digaris sedangkan untuk telapak tangan dilakukan dengan memercikkan cairan berwarna di atas punggung tangan yang terlebih dahulu diletakkan di atas permukaan dinding batu. Gambar manusia digambarkan berupa kontur-kontur saja dan berwarna merah dengan kepala yang digambarkan dengan rambut yang tegak lurus. Gambar tangan di Leang Jing paling besar berukuran 23 x 9 cm dan paling kecil berukuran 14 x 6 cm dengan jumlah mencapai 83 buah. Peletakan gambar pada dinding rongga gua berpola memanjang dan terlihat sebagai panel gambar dengan panjang mencapai 10 meter pada ketinggian sekitar 1 meter di atas lantai gua.

Pada penelitian bidang arkeometri tahun 1994 yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menemukan sepotong tulang kering manusia bagian kaki kiri dengan ukuran panjang 21,6 cm yang sudah terbungkus matrik atau endapan. Dari hasil identifikasi memperlihatkan tulang kering tersebut sudah mengalami proses penulangan (Ossipliatosis), yang menandakan bahwa pemilik tulang tersebut berumur antara 30-50 tahun. Pada penelitian yang sama di Leang Jing juga ditemukan fragmen keramik asing yang berasal dari Cina masa dinasti Qing (abad XIX-XX) berupa mangkuk dan piring,keramik Eropa (abad XIX-XX), berupa piring, dan keramik Jepang Masa Meiji (abad XIX-XX) berupa mangkuk, serta dua buah mata uang Belanda yang berdiameter 22,2 cm.

Pertanggalan di Leang Jing ini berdasarkan kerjasama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan Universitas Griffith Australia tahun 2014.