Indonesia Virtual Tour
Explore
search

Leang Lompoa secara administratif terletak di Dusun Pakalu, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, terletak pada ketinggian sekitar 22 meter di atas permukaan laut. Luas lahan situs yang dipagar mencapai 6.950 meter persegi, hampir sama dengan satu lapangan sepak bola. Lompoa dalam bahasa lokal (Makassar) berarti besar, nampaknya penamaan gua atau leang ini mengacu pada besarnya ruangan gua dengan langit-langit gua yang cukup tinggi.

Leang Lompoa merupakan gua dengan bentuk ruangan menyerupai lorong yang memanjang dengan langit-langit yang tinggi dan makin ke atas makin sempit. Lebar lorong gua bervariasi antara 7-11 meter dengan ketinggian langit-langit antara 7-9 meter. Lorong gua memiliki dua kelokan, dengan kelokan pertama tepat setelah mulut gua dan kelokan kedua setelah melewati pertengahan lorong gua. Mulut gua menghadap ke arah selatan dengan lebar mencapai 6,8 meter dengan ketinggian langit-langit mencapai 7,7 meter. Bentuk dinding gua cekung dengan dasar dinding melebar ke dalam sehingga bagian dasar cenderung menyempit. Permukaan lantai gua dimulai dari mulut gua hingga bagian terdalam gua memiliki kecenderungan menanjak dengan bagian tercuram adalah mulut gua dengan kemiringan mencapai 15°. Tutupan permukaan lantai berupa tanah dengan tekstur halus berwarna coklat. Banyak ditemukan lubang-lubang bekas penggalian tanah yang digunakan sebagai pupuk oleh masyarakat sekitar. Ornamen gua seperti stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone bisa dijumpai pada gua terutama bagian depan merupakan hasil proses karstifikasi yang sampai saat ini masih berlangsung di dalam gua.

Tinggalan arkeologi yang ditemukan antara lain gambar cadas (lukisan dinding gua) berupa gambar tangan berwarna merah, temuan lainnya adalah cangkang-cangkang kerang (dari kelas gastropoda maupun pelecypoda) yang merupakan indikasi dari sisa-sisa makanan dan juga temuan artefak batu berupa serpihan kecil dengan bahan rijang (chert). Gambar cadas berupa gambar tangan ditemukan di langit-langit ceruk pada sisi kanan gua (apabila menghadap ke dalam gua) dan dinding sisi kanan yang berupa panel panjang yang kemungkinan memanjang hampir mencapai bagian terdalam gua. Asumsi ini didasarkan atas masih banyaknya sisa cat lukisan yang berada di sekitar dinding gua pada bagian tersebut yang telah terkelupas.

Pada penelitian Bidang Arkeometri dari Pusat Arkeologi Nasional pada tahun 1995, telah mengidentifikasi beberapa jenis moluska yang ditemukan di Leang Lompoa antara lain dari kelas Gastropoda jenis Ceritheiidae (laut/pantai) dan Neritidae (tawar hingga payau) serta dari kelas Pelecypoda jenis VeneridaeLeach (laut) dan Arcidae (laut). Selain itu ditemukan juga tulang dan rahang binatang jenis tikus (rodentia).

Gambar cadas di Leang Lompoa diperkirakan berjumlah 102 imaji dengan motif yang dominan adalah gambar tangan negatif (hand stencil) sebanyak 83 buah, imaji geometris sebanyak 1 buah, dan imaji tidak teridentifikasi sebanyak 22 buah. Teknik penggambaran yang digunakan untuk membuat gambar cadas di Leang Lompoa ini adalah teknik sembur.

Pertanggalan yang dilakukan pada gambar cadas berdasarkan kerjasama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan Universitas Griffith Australia tahun 2014.