188

Tugu Proklamasi


TuguProklamasi adalah tugu peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesiayang berdiri di kompleks Taman Proklamasi di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.Taman tersebut berlokasi di bekas kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur56. Rumah tersebut, telah dihancurkan, adalah lokasi pembacaan proklamasikemerdekaan.

 

Padakompleks juga terdapat monumen dua patung Sukarno-Hatta berukuran besar yangberdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasipertama kali dibacakan. Di tengah-tengah dua patung proklamator terdapat patungnaskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan danbentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.

 

KompleksTaman Proklamasi terletak di sebidang tanah tempat bekas kediaman Sukarno diJalan Pegangsaan Timur 56. Presiden Sukarno menyatakan kemerdekaan Indonesiapada 17 Agustus 1945 dari teras depan rumah ini. Rumah tersebut kemudiandikenal sebagai Gedung Proklamasi.

 

Untukmenandai ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia, sebuah tugu peringatan –dalam bentuk obelisk kecil – dibangun pada tahun 1946 oleh kelompok IkatanWanita Djakarta. Tugu peringatan ini, dikenal sebagai Tugu Peringatan SatoeTahoen Repoeblik Indonesia, dibangun di halaman depan Gedung Proklamasi. Kemudiantugu tersebut dinamai ulang sebagai Tugu Proklamasi.

 

Sejak saatitu, para pemuda dan pelajar Indonesia mengadakan upacara tahunan untukmerayakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Menyusul pemindahanpenuh kedaulatan Indonesia pada tahun 1950, Taman Proklamasi setiap tahundikunjungi oleh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia setiap tahun. untukmeletakkan bunga dan menghormati prajurit yang gugur. Upacara tersebut jugadihadiri oleh tamu dari negara lain.

 

Sejak 1956,popularitas Taman Proklamasi sebagai tempat berkumpulnya upacara mulai menurun.Terlepas dari anjuran para sesepuh kota agar rumah tersebut direnovasi, padamalam hari tanggal 15 Agustus 1960, Sukarno memerintahkan pembongkaran rumahdan peringatan Tugu Proklamasi. Menurut Sukarno, Tugu Proklamasi sebenarnyaadalah Tugu Linggarjati. Pernyataannya tersebut tidak jelas, tetapi tampaknyaSukarno berpikir bahwa baik rumah dan monumen tersebut tidak cukup besar untukmenjadi monumen nasional meskipun signifikansi historisnya cukup penting. Tigapotongan marmer dari Tugu Proklamasi kemudian disimpan di rumah Yos Masdanisebagai kenang-kenangan.[5] Tugu peringatan rencananya akan dibangun kembalipada tahun 1972 di bawah usulan gubernur Ali Sadikin.

 

Pada 1Januari 1961, Presiden Sukarno meresmikan pembangunan Tugu Petir, yang kemudianjuga dikenal sebagai Monumen Proklamasi.

 

Pada tahun1972, pembangunan Gedung Proklamasi yang modernis – sekarang Gedung PerintisKemerdekaan – dimulai. Pada tahun yang sama, Tugu Proklamasi yang dihancurkansebelumnya dibangun kembali dengan desain serupa.

 

Pada 17Agustus 1980, monumen terakhir Taman Proklamasi, Monumen Pahlawan ProklamatorSukarno-Hatta yang berukuran besar, diresmikan oleh Presiden Suharto.

 

Monumen

 

Terdapattiga tugu peringatan yang berlokasi di Taman Proklamasi: Tugu Peringatan SatoeTahoen Repoeblik Indonesia, Tugu Petir, dan Monumen Pahlawan ProklamatorSukarno-Hatta. Berikut ini adalah deskripsi dari masing-masing monumen.

 

TuguPeringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia

 

TuguPeringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia adalah monumen pertama yangdibangun di Taman Proklamasi. Tugu ini diresmikan pada 17 Agustus 1946 olehPerdana Menteri Sutan Sjahrir selama masa pendudukan sekutu. Tugu peringatantersebut berbentuk obelisk kecil, dengan tulisan "Atas Oesaha WanitaDjakarta", penggambaran naskah kemerdekaan Indonesia, dan peta Indonesia.Tak lama setelah itu, peringatan itu diganti namanya menjadi Tugu Proklamasi

 

TuguProklamasi diprakarsai oleh beberapa tokoh perempuan Indonesia yang tergabungdalam Pemuda Puteri Indonesia (PPI) dan Wanita Indonesia, diantaranya Johanna"Yos" Masdani Tumbuan, Mien Wiranatakusumah, Zus Ratulangi (putri SamRatulangi), Zubaedah, dan Nyonya Gerung. Sketsa tugu peringatan tersebut dibuatoleh Kores Siregar, seorang mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung.Konstruksi tugu ini dimulai pada Juli 1946. Pada malam peresmian tugu tersebutpada pertengahan Agustus, wali kota Jakarta Suwiryo menolak untuk meresmikantugu tersebut karena masalah keamanan yang dirasakan. Selama waktu peresmianyang diusulkan, sekutu telah menduduki Jakarta dan ada kekhawatiran bahwasekutu akan memulai pembantaian yang serupa dengan pembantaian Amritsar diIndia.

 

Terlepasdari kekhawatiran yang dirasakan, para penggagas pembangunan Tugu Proklamasimemutuskan untuk menghubungi perdana menteri Sutan Sjahrir pada sore haritanggal 16 Agustus 1946 untuk memimpin peresmian tugu tersebut. Sutan Sjahrirbersedia memimpin peresmian dan karena itu ia mengambil penerbangan ke Jakartadari Yogyakarta untuk meresmikan tugu peringatan tersebut. Tidak ada konflikyang terjadi selama peresmian tugu ini.

 

Sumber:Wikipedia.

 

 



Lokasi Tugu Proklamasi

Septian
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s

Septian
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s

Septian
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s