61
Tugu Proklamasi adalah tugu peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang berdiri di kompleks Taman Proklamasi di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Taman tersebut berlokasi di bekas kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Rumah tersebut, telah dihancurkan, adalah lokasi pembacaan proklamasi kemerdekaan.

Pada kompleks juga terdapat monumen dua patung Sukarno-Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di tengah-tengah dua patung proklamator terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.

Kompleks Taman Proklamasi terletak di sebidang tanah tempat bekas kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Presiden Sukarno menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dari teras depan rumah ini. Rumah tersebut kemudian dikenal sebagai Gedung Proklamasi.

Untuk menandai ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia, sebuah tugu peringatan – dalam bentuk obelisk kecil – dibangun pada tahun 1946 oleh kelompok Ikatan Wanita Djakarta. Tugu peringatan ini, dikenal sebagai Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, dibangun di halaman depan Gedung Proklamasi. Kemudian tugu tersebut dinamai ulang sebagai Tugu Proklamasi.

Sejak saat itu, para pemuda dan pelajar Indonesia mengadakan upacara tahunan untuk merayakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Menyusul pemindahan penuh kedaulatan Indonesia pada tahun 1950, Taman Proklamasi setiap tahun dikunjungi oleh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia setiap tahun. untuk meletakkan bunga dan menghormati prajurit yang gugur. Upacara tersebut juga dihadiri oleh tamu dari negara lain.

Sejak 1956, popularitas Taman Proklamasi sebagai tempat berkumpulnya upacara mulai menurun. Terlepas dari anjuran para sesepuh kota agar rumah tersebut direnovasi, pada malam hari tanggal 15 Agustus 1960, Sukarno memerintahkan pembongkaran rumah dan peringatan Tugu Proklamasi. Menurut Sukarno, Tugu Proklamasi sebenarnya adalah Tugu Linggarjati. Pernyataannya tersebut tidak jelas, tetapi tampaknya Sukarno berpikir bahwa baik rumah dan monumen tersebut tidak cukup besar untuk menjadi monumen nasional meskipun signifikansi historisnya cukup penting. Tiga potongan marmer dari Tugu Proklamasi kemudian disimpan di rumah Yos Masdani sebagai kenang-kenangan.[5] Tugu peringatan rencananya akan dibangun kembali pada tahun 1972 di bawah usulan gubernur Ali Sadikin.

Pada 1 Januari 1961, Presiden Sukarno meresmikan pembangunan Tugu Petir, yang kemudian juga dikenal sebagai Monumen Proklamasi.

Pada tahun 1972, pembangunan Gedung Proklamasi yang modernis – sekarang Gedung Perintis Kemerdekaan – dimulai. Pada tahun yang sama, Tugu Proklamasi yang dihancurkan sebelumnya dibangun kembali dengan desain serupa.

Pada 17 Agustus 1980, monumen terakhir Taman Proklamasi, Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta yang berukuran besar, diresmikan oleh Presiden Suharto.

Monumen

Terdapat tiga tugu peringatan yang berlokasi di Taman Proklamasi: Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, Tugu Petir, dan Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta. Berikut ini adalah deskripsi dari masing-masing monumen.

Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia

Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia adalah monumen pertama yang dibangun di Taman Proklamasi. Tugu ini diresmikan pada 17 Agustus 1946 oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir selama masa pendudukan sekutu. Tugu peringatan tersebut berbentuk obelisk kecil, dengan tulisan "Atas Oesaha Wanita Djakarta", penggambaran naskah kemerdekaan Indonesia, dan peta Indonesia. Tak lama setelah itu, peringatan itu diganti namanya menjadi Tugu Proklamasi

Tugu Proklamasi diprakarsai oleh beberapa tokoh perempuan Indonesia yang tergabung dalam Pemuda Puteri Indonesia (PPI) dan Wanita Indonesia, diantaranya Johanna "Yos" Masdani Tumbuan, Mien Wiranatakusumah, Zus Ratulangi (putri Sam Ratulangi), Zubaedah, dan Nyonya Gerung. Sketsa tugu peringatan tersebut dibuat oleh Kores Siregar, seorang mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung. Konstruksi tugu ini dimulai pada Juli 1946. Pada malam peresmian tugu tersebut pada pertengahan Agustus, wali kota Jakarta Suwiryo menolak untuk meresmikan tugu tersebut karena masalah keamanan yang dirasakan. Selama waktu peresmian yang diusulkan, sekutu telah menduduki Jakarta dan ada kekhawatiran bahwa sekutu akan memulai pembantaian yang serupa dengan pembantaian Amritsar di India.

Terlepas dari kekhawatiran yang dirasakan, para penggagas pembangunan Tugu Proklamasi memutuskan untuk menghubungi perdana menteri Sutan Sjahrir pada sore hari tanggal 16 Agustus 1946 untuk memimpin peresmian tugu tersebut. Sutan Sjahrir bersedia memimpin peresmian dan karena itu ia mengambil penerbangan ke Jakarta dari Yogyakarta untuk meresmikan tugu peringatan tersebut. Tidak ada konflik yang terjadi selama peresmian tugu ini.

Sumber: Wikipedia.


Lokasi Tugu Proklamasi

Septian
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s

Septian
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s

Septian
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s